TASAWUF


Secara umum ajaram islam mengatur kehidupan yang bersifat lahiriah atau jasadiah, dan yang bersifat batiniah. Pada unsur batiniahlah kemudian lahir tasawuf, dan unsur kehidupan tasawuf ini mendapat perhatian cukup besar dari sumber ajaran islam, yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadist serta praktek kehidupan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Dalam Al-Qur’an antara lain berbicara tentang kemungkinan manusia dengan Tuhan dapat saling mencintai (mahabbah) yang tercantum dalam firman Allah QS. Al-Maidah ayat 54 yang artinya;
“Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad agamanya maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya”.
Perintah agar manusia senantiasa bertaubat, membersihkan diri dan memohon ampunan kepada Allah yang tertera dalam QS. Tahrim ayat 8;
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb Kami, sempurnakanlah bagi Kami cahaya Kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."
Al-qur’an juga mengingatkan manusia agar dalam hidupnya tidak diperbudak oleh kehidupan dunia dan harta benda.
“Wahai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah orang yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah”. (QS. Al-Fathir: 5)
“kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi. dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan”. (QS. Al-Hadid: 5)
Dan untuk senantiasa bersikap sabar dalam menjalani pendekatan diri kepada Allah SWT. “(Yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur”. (QS. Ali Imran: 17)
Contoh kehidupan sufi banyak pula ditemukan dalam kehidupan Rasulullah sehari-hari, yang penuh dengan penderitaan dan waktunya dihabiskan hanya untuk beribadah dan berbakti kepada manusia. Sebelum di angkat menjadi Rasul, beliau sering bertakhanus di Gua Hiro untuk memohon petunjuk kepada Allah. Berulang kali beliau melakukan seperti itu dengan perbekalan hanya air putih dan buah kurma, terkadang juga mengenakan pakaian tambalan yang mencerminkan kehidupannya sederhana. Di tempat itulah beliau memisahkan diri dari kaum Quraisy yang sudah dinilai menyimpang ajaran Tuhan.
Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah berkata: “ketakutanku kepada Allah melebihi dari orang lain dan ketakutanku kepada-Nya tak ada tolok bandingnya. Kadang kala kulalui tiga puluh hari lamanya dengan tidak mempunyai simpanan makanan di rumah, sehingga Bilal datang membawa sepotong roti yang kami makan bersama.
Ibnu Mas’ud pernah masuk kekamar Rasullah dan pada saat itu Rasulullah sedang berbaring di atas sebuah tikar dari daun kurma yang memberi bekas pada pipinya. Ibnu mas’ud bertanya: “ Wahai Rasulullah apakah tidak baik kucarikan sebuah bantal untukmu?. Rasulullah menjawab: “Tak ada hajatku untuk itu, aku dan dunia laksana seorang musafir yang  sebentar berteduh di kala panas terik di bawah naungan sepohon kayu yang rindang untuk kemudian berangkat lagi untuk meneruskan arah tujuan”.

I.         PENGERTIAN TASAWUF
 Tidak mengherankan kalau kata sufi dan tasawuf dikaitkan dengan kata-kata Arab yang mengandung arti suci. Penulis-penulis banyak mengaitkannya dengan kata:     1. Safa dalam arti suci dan sufi adalah orang yang disucikan. Dan memang, kaum sufi banyak berusaha menyucikan diri mereka melalui banyak melaksanakan ibadat, terutama salat dan puasa.
2. Saf (baris). Yang dimaksud saf di sini ialah baris pertama dalam salat di mesjid. Saf pertama ditempati oleh orang-orang yang cepat datang ke mesjid dan banyak membaca ayat-ayat al-Qur'an dan berdzikir sebelum waktu salat datang. Orang-orang seperti ini adalah yang berusaha membersihkan diri dan dekat dengan Tuhan.
3. Ahl al-Suffah, yaitu para sahabat yang hijrah bersama Nabi ke Madinah dengan meninggalkan harta kekayaannya di Mekkah. Di Madinah mereka hidup sebagai orang miskin, tinggal di Mesjid Nabi dan tidur di atas bangku batu dengan memakai suffah, (pelana) sebagai bantal. Ahl al-Suffah, sungguhpun tak mempunyai apa-apa, berhati baik serta mulia dan tidak mementingkan dunia. Inilah pula sifat-sifat kaum sufi.
4. Sophos (bahasa Yunani yang masuk kedalam filsafat Islam) yang berarti hikmat, dan kaum sufi pula yang tahu hikmat. Pendapat ini memang banyak yang menolak, karena kata sophos telah masuk kedalam kata falsafat dalam bahasa Arab, dan ditulis dengan sin dan bukan dengan shad seperti yang terdapat dalam kata tasawuf.
5. Suf (kain wol). Dalam sejarah tasawuf, kalau seseorang ingin memasuki jalan tasawuf, ia meninggalkan pakaian mewah yang biasa dipakainya dan diganti dengan kain wol kasar yang ditenun secara sederhana dari bulu domba. Pakaian ini melambangkan kesederhanaan serta kemiskinan dan kejauhan dari dunia.
Sedangkan menurut istilah Tasawuf adalah sebuah metode Islami dalam upaya penyucian diri, sebuah jalan untuk meraih derajat ketuhanan tertinggi sebagaimana diteladankan oleh Nabi Muhammad Saw. Para Sufi senantiasa menjaga diri dari keterikatan dan kecintaan terhadap dunia agar tetap merasa dekat dengan Allah Swt. Buah dari kedekatan ahli Tasawuf (sufi) dengan Tuhannya adalah rasa cinta yang mendalam kepada-Nya.
II.       TUJUAN TASAWUF
          .Tujuan tasawuf adalah mendekatkan diri sedekat mungkin dengan Tuhan   sehingga ia dapat melihat-Nya dengan mata hati bahkan rohnya dapat bersatu dengan Roh Tuhan. Filsafat yang menjadi dasar pendekatan diri itu adalah, pertama, Tuhan bersifat rohani, maka bagian yang dapat mendekatkan diri dengan Tuhan adalah roh, bukan jasadnya. Kedua, Tuhan adalah Maha Suci, maka yang dapat diterima Tuhan untuk mendekatiNya adalah roh yang suci. Tasawuf adalah ilmu yang membahas masalah pendekatan diri manusia kepada Tuhan melalui penyucian rohnYA.
III.     LATAR BELAKANG TASAWUF
Berawal dari abad 7 M, di wilayah Arab terdapat sebuah masyarakat yang terpecah-belah, yang selama beberapa abad lamanya telah mengalami perkembangan dalam tradisi yang mapan berupa peperangan, paganisme dan nilai-nilai kesukuan lainnya. Meskipun pada masa itu bangsa Arab telah melakukan aktivitas perniagaan diluar wilayah Arab, namun mereka tidak begitu banyak dipengaruhi oleh budaya lain.
Setelah beberapa lamanya mengalami zaman kehancuran, atau disebut zaman Jahiliyah. Tiba-tiba sebuah “cahaya nubuwat” yang mengagumkan hadir dihadapan mereka. Cahaya ini pertama-tama menyingkap dan menghancurkan sifat kebinatangan dan ketidakadilan dalam masyarakat tersebut. Manusia yang luar biasa, membawa cahaya baru dari pengetahuan ini adalah Nabi Muhammad SAW.
Dalam waktu 23 tahun, Nabi Muhammad SAW mengajarkan kebenaran abadi yaitu bahwa manusia dilahirkan ke dunia ini demi mempelajari jalannya penciptaan seraya akan kembali pada sumbernya, Maha Pencipta Yang Satu. Beliau berhasil membawa mereka pada jalan yang benar, meskipun dalam meraihnya penuh dengan penderitaan. Mereka dapat menerima ajarannya dan penjelasan tentang ayat-ayat Al-qur’an yang diwahyukan kepadanya. Mereka menyembah Allah dan mengikuti Nabi yang hidup penuh dengan pengetahuan dan kecintaan kepada Allah.
Setelah Nabi wafat , kepemimpinannya di teruskan oleh Khulafaur Rasyidin dan berlanjut pada masa Bani Umayah dan Bani Abbasiyah. Pada masa Bani umayah dan Abasiyah inilah sering terjadi kekacuan politik dan social di satu sisi dan di sisi lain terjadi pula  perpecahan umat islam dalam bidang aqidah  yang menimbulkan banyaknya  faham tauhid seperti qodariyah , jabariyah , syiah , murjiah , ahlussunah waljamaah dll. Dalam sejarahnya dari setiap faham tauhid tersebut saling menyalahkan dan menganggap dirinya yang paling benar bahkan saling kafir mengkafirkan. Akibatnya   banyak orang yang ingin melepaskan diri dari kekacauan-kekacauan yang terjadi dan memilih jalan tasawuf.  
   
IV.     SUMBER AJARAN TASAWUF
Banyak pendapat yang mengatakan bahwa tasawuf berasal dari luar islam yang masuk ke dalam islam yaitu kristen. Ada yang mengatakan tasawuf timbul karena pengaruh ajaran hindu dan pengaruh ajaran budha. Terlepas dari ada atau tidaknya pengaruh dari luar ajaran islam, yang jelas dalam islam sendiri banyak ayat Al-Qur’an dan hadits yang membawa kepada timbulnya tasawuf (mendekatkan diri kepada Alloh ).Sebenarnya dalam setiap agama kehidupan kerohanian pasti ada. Setiap pemeluk akan mengamalkan ajaran agamanya sebagai buah penghayatan terhadap ajaran  agamanya.Oleh karena itu, kesamaan pengamalan tasawuf dalam islam dengan agama-agama lain bukan karena saling meniru. Itu terjadi bisa aja karena ada kesamaan apa yang di amalkan oleh masing-masing pemeluk agama.
V. MAQAMAT
Maqamat (bentuk jamak dari maqam ) mengandung arti tingkatan-tingkatan hidup sufi yang telah dapat dicapai oleh para sufi untuk dekat pada tuhan. Maqam merupakan hasil dari kesungguhan dan perjuangan yang terus menerus Seseorang baru dapat pindah dan naik dari satu tingkat ke tingkat yang lebih tinggi setelah melalui latihan (riyadhah) dan melakukan kebiasaan-kebiasaan yang lebih baik dan menyempurnakan syarat-syarat yang harus di penuhi pada maqam yang ada di bawahnya.
Jalan yang harus ditempuh oleh seorang calon sufi ternyata tidak mudah. Karena sulitnya, untuk pindah dari satu maqam ke maqam yang lebih tinggi., diperlukan usaha dan perjuangan yang berat dalam waktu yang tidak singkat.
Jumlah maqam yang harus ditempuh oleh para sufi berbeda-beda, sesuai dengan pengalaman pribadi yang bersangkutan. Abu Nasr Al-Sarraj menyebut tujuh maqam yaitu :
1.        Taubat (Al-taubat)
Para sufi sepakat menempatkan taubat sebagai maqam pertama dalam mendekatkan diri kepada Alloh. Yaitu taubat yang sebenar-benarnya  bukan hanya sebagai penghapus dosa .
2.        Zuhud (Al-Zuhd)
Zuhud artinya meninggalkan dunia dan hidup kematerian , bukan saja dari yang haram tetapi juga yang halal. Ahmad bin Hanbal membagi zuhud menjadi 3 macam :
a.        zuhud awam dengan meninggalkan yang haram
b.        zuhud orang khawas dengan meninggalkan yang halal
c.        zuhud orang arif dengan meninggalkan apa saja yang akan menghalanginya dari Alloh.
3.        Wara ( Al- Wara’)
Menurut Abu Zakaria Al-Anshari , wara’ adalah menjauhkan diri dari syubhat dan dari yang tidak membawa kebaikan dalam kehidupan agama, dan segala yang tidak jadi kepentingannya yaitu segala yang berlebih-lebihan walaupun halal.
Di lihat dari segi jenisnya wara’ terbagi dua :
a.        wara’ lahir adalah tidak menggerakkan anggota badan melainkan kepada yang diridhoi Alloh.
b.        Wara’ batin adalah tidak memasukkan kepada ingatan dan kenangan kecuali hanya Alloh.
4.        Fakr ( Al- Faqr)
Fakr dapat diartikan berhajat kepada sesuatu. Menurut ibnu Qudamah fakir adalah orang yang berhajat kepada sesuatu.karena itu, selain Alloh, adalah fakir karena ia selalu berhajat kepada Alloh dan selalu memerlukan kemurahannya.
5.        Sabar (Al-Shabr)
Abu zakaria Al-Anshari mengatakan sabar merupakan kemampuan seseorang mengendalikan diri terhadap sesuatu yang terjadi baik yang disenangi atau yang dibenci.
6.        Tawakkal (Al-Tawakkal)
Berasal dari kata wakala yang berarti keteguhan hati dalam menyerahkan urusan kepada orang lain. Tawakal terdiri dari tiga tingkatan :
a.        bidayah : yakni tawakal pada tingkat hati yang selalu merasa tenteram terhadap apa yang sudah  dijanjikan Alloh.
b.        Mutawassithah yakni tawakal pada tingkat hati yang merasa cukup menyerahkan segala urusan kepada Alloh karena yakin bahwa Alloh mengetahui keadaan dirinya.
c.        Nihayah yakni tawakal pada tingkat terjadi penyerahan diri seseorang pada rida atau merasa lapang menerima segala ketentuan Alloh.
7.        Rida (Al-Ridha’)
Adalah suatu sikap mental yang mesti dimiliki dan dijalani oleh seorang sufi, karena dengan sikap mntal ini, kebersihan, kesempurnaan dan  ketinggian rohani dapat dicapai.
VI.  AHWAL    
                Ahwal bentuk jamak dari kata hal adalah sikap rohaniah (mental ) seorang sufi dalam perjalanan tasawufnya. Perbedaan antara maqam dan ahwal adalah kalau maqam merupakan sikap hidup yang harus diusahakan dengan kesngguhan dan latihan, sedangkan ahwal merupakan anugerah Alloh bagi yang dikehendaki-Nya.    
Macam-macam ahwal :
1.        Khauf (Al-Khawf)
Artinya merasa takut akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada masa yang akan datang. Maksudnya takut kepada Alloh atau takut terhadap siksa-Nya.
2.  Tawadu (Al-Tawadhu’)
 Artinya merendahkan diri dan berlaku hormat kepada siapa saja. Adapun tawadu yang menjadi sikap mental sufi adalah selalu merendahkan diri baik kepada manusia maupun kepada Alloh.
3.        Takwa (Al-Taqwa)
Artinya terpelihara dari kejahatan, karena adanya keinginan yang kuat untuk meninggalkan kejahatan.
4.        Ikhlas (Al-Ikhlash)
Artinya hilangnya rasa pamrih atas segala sesuatu yang diperbuat. Orang yang ikhlas adalah orang yang tidak mengharapkan imbalan dari perbuatannya.
5.        Syukur (Al-Syukr)
Artinya pengakuan terhadap nikmat yang telah diberikan Alloh kepadanya dengan kedudukannya. Dalam pandangan tasawuf, nikmat hakiki madalah kebahagiaan di akhirat, karena nikmat akhirat itu kekal sedangkan nikmat dunia sementara saja. Alloh Swt menegaskan dalam surat Ibrahim ayat : 7 : ”Sungguh jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah nikmat kepadamu dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, sungguh azab-Ku sangat pedih.”Olleh karena itu sesungguhnya syukur itu merupakan nikmat dari Alloh.Wajiblah seseorang bersyukur kepada-Nya karena syukur itu tidak ada batas akhirnya.

1 komentar:

  1. agan,, hehe maap ye sebelumnya kalo ngerepotin :)ane udah ganti domain ke blogspot lg gan. jadi kalo gak keberatan alamat link banner ane diupdate juga y gan,, hehe

    www.cupz.co.cc diganti www.notcupz.blogspot.com

    atau copas kembali linknya di
    http://www.notcupz.blogspot.com/2011/06/exchange-link.html

    mkasih sebelumnya utk kesediaannya y gan :)

    BalasHapus

< tinggalkan pesan anda >